Home > Artikel > Gagasan Akuntansi Matematika Dalam Perspektif Sistem

Gagasan Akuntansi Matematika Dalam Perspektif Sistem

Accounting

Tulisan ini diinspirasi oleh pemikiran dan kuliah umum Dr. Sony Warsono, MAFIS., tentang “Penghapusan Standar Akuntansi dengan Logika Matematika”

Sistem adalah sekumpulan/seperangkat komponen yang saling berhubungan satu sama lain dan saling berinteraksi untuk mencapai tujuan. Di dalam akuntansi sistem sangat berperan penting sebagai landasan pemahaman bahwa akuntansi itu disusun oleh komponen-komponen subsistem yang saling berhubungan satu sama lain mulai dari komponen yang paling kecil hingga komponen-komponen besar yang saling berinteraksi satu sama lain sehingga terbentuklah sistem akuntansi. Proses akuntansi jika dipandang dalam perspektif sistem dapat dibagi-bagi menjadi komponen-komponen penyusun seperti bukti transaksi, penjurnalan, posting ke buku besar, neraca saldo, kertas kerja, jurnal penyesuaian, neraca saldo setelah penyesuaian dan laporan keuangan. Komponen-komponen ini jika dijabarkan lagi masih memiliki subsistem lagi yang lebih kecil.

Akuntansi sebagai suatu sistem tidak boleh bersifat kekal dan statis. Sistem yang ideal adalah sistem yang mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya dan selalu berkembang menjadi lebih baik dari masa ke masa. Komponen-komponen penyusun sistem akuntansi yang selama ini ada mungkin saja dapat berubah dan bertambah. Selain itu diantara komponen yang ada mungkin saja ada komponen yang kurang memenuhi kebutuhan sehingga mengakibatkan sistem akuntansi yang ada saat ini masih kurang memadai. Sebagai satu contoh, hal yang kadang terlupakan dalam sistem akuntansi adalah komponen pengukuran. Meskipun tampak sederhana, tetapi proses pengukuran memegang peranan penting dalam akuntansi. Pengukuran merupakan proses ataupun komponen yang sangat penting agar bukti-bukti transaksi dapat dicatat ke dalam jurnal.

Dengan menggunakan perspektif sistem dan logika dasar matematika, pemahaman dogmatis dalam akuntansi dapat diuraikan dan dijabarkan secara lebih logis. Sebagai contoh adalah logika debet kredit untuk aktiva, utang, pendapatan dan beban. Ketika aktiva mengalamai kenaikan, aktiva akan ditempatkan pada sisi debet dan ketika aktiva mengalami penurunan aktiva akan ditempatkan pada sisi kredit. Hal yang kontras terjadi pada komponen pendapatan. Ketika pendapatan mengalami kenaikan, pendapatan akan ditempatkan pada posisi kredit dan sebaliknya ketika terjadi penurunan, pendapatan akan ditempatkan pada posisi debet. Secara umum pemahaman atas kondisi diatas dapat diterima dengan didasarkan pada pernyataan yang dikeluarkan olah Generally Accepted Accounting Principles (GAAP). Pemahaman terhadap permasalahan diatas tidak akan memiliki landasan yang kuat ketika hanya didasari atas konvensi atau kesepakatan belaka tanpa adanya alasan ilmiah.  Melalui pendekatan sistem permasalahan diatas sebenarnya dapat dijabarkan dengan logis.

Akuntansi terdiri atas tiga pilar utama yaitu GAAP, Teknologi dan Matematika. GAAP dapat berkembang sedemikian rupa dari masa ke masa sesuai dengan kebutuhan, sementara itu Matematika merupakan komponen yang sudah bersifat pasti dan tidak dapat dikembangkan lagi dalam batasan-batasan tertentu. Permasalahan apapun yang dapat dijabarkan dengan matematis secara umum dapat dipastikan bisa dibuktikan secara ilmiah. Oleh karena itu dengan menggunakan pendekatan sistem, permasalahan logika debet kredit diatas dapat dijelaskan sebagai berikut : Akuntansi memiliki persamaan dasar yaitu : Aktiva = Utang + Ekuitas, jika dijabarkan lagi akan menjadi Aktiva = Utang + Ekuitas + Pendapatan – Biaya. Persamaan yang ada diatas adalah persamaan matematika. Ketika Aktiva bertambah, Utang dan Ekuitas juga bertambah. Kondisi ini dapat diterima secara logis dari sisi persamaan matematika. Jika sisi kiri bertambah maka sisi kanan juga akan bertambah. Namun bagaimana halnya jika yang terjadi adalah pada sisi kiri terjadi penambahan maupun pengurangan. Di satu pihak aktiva bertambah namun di lain pihak aktiva juga berkurang.

Pemahaman atas kejadian ini dapat kita sederhanakan ketika kita memandang aktiva adalah sebuah sistem yang masih memiliki sub sistem yang lebih kecil. Dalam perspektif seperti ini kita dapat memandang bahwa sebenarnya Aktiva masih memiliki komponen subsistem yang dapat mempengaruhi penambahan dan pengurangannya. Dalam hal ini lah kita dapat memahami mengapa debet dan kredit diperlukan dalam pencatatan suatu komponen akun, karena debet dan kredit merupakan komponen sub sistem dari akun yang berfungsi untuk menyimpan nilai peningkatan dan penurunan dari akun. Salah satu ciri dari matematika adalah konsistensi dalam penggunaan symbol dan penggunaan operasi-operasi matematis. Pada persamaan akuntansi Aktiva = Utang + Ekuitas + Pendapatan – Biaya. Aktiva berada pada sebelah kiri persamaan. Konvensi yang dibutuhkan dalam permasalahan ini hanyalah pada peletakan posisi debet dan kredit pada sisi kiri dan kanan. Pada persamaan ini disepakati bahwa persamaan pada sisi kiri adalah Debet dan persamaan pada sisi kanan adalah Kredit. Konsistensi ini harus tetap dipakai ketika kita menguraikan Aktiva, Utang, Ekuitas,Pendapatan dan Biaya menjadi komponen subsistemnya yaitu debet dan kredit.

Beberapa pengertian yang ada di dalam akuntansi selama ini tidak mengacu pada pilar matematika, padahal sesungguhna akuntansi itu memiliki landasan yang kuat pada pilar matematika. Akuntansi memiliki persamaan dasar yang sesungguhnya sangat penting sebagai pondasi untuk menopang sistem akuntansi yang selama ini digunakan. Namun pada kenyataannya pemahaman dan pengertian yang ada dalam akuntansi saat ini cenderung mengkerdilkan matematika itu sendiri. Beberapa contoh yang dapat dijadikan bahan pemikiran kita antara lain :

1. Aktiva = Utang + Ekuitas + Pendapatan – Biaya
Dari sisi persamaan matematika apabila kita melakukan perubahan posisi Biaya dari sisi kanan ke sisi kiri dapat dibenarkan. Namun apakah jika kita merujuk pada pilar GAAP dan Teknologi hal ini dapat dibenarkan ? Pemahaman yang ada selama ini menyatakan bahwa pada sisi kiri persamaan akuntansi hanya ada komponen aktiva. Komponen lainnya berada pada sisi kiri. Namun pada berbagai literature yang ada tidak ada satupun yang melarang apabila Biaya dipindahkan dari sisi kanan ke kiri. Jika kita mengacu pada pemahaman matematis, Biaya seharusnya diperbolehkan untuk ditempatkan pada sisi kiri. Mengapa ? Karena dari pesamaan diatas biaya mengurangi utang yang ditambahkan dengan ekuitas dan pendapatan, sehingga kondisinya akan sama juga halnya ketika biaya itu menambah suatu aktiva pada persamaan di sisi kiri. Jika kita lihat dari perspektif GAAP dan Teknologi, apakah memungkinkan ? Argumen yang dapat kita kemukakan barangkali adalah tidak dapat dipindahkan karena biaya adalah komponen dari laba rugi yang harus ditandingkan dengan pendapatan. Hal ini memang benar, tetapi perlu diingat bahwa GAAP dan Teknologi dapat berkembang sesusai dengan kepentingan dari masa ke masa, ketika pemahaman secara matematis dapat diterima secara logis dan dibuktikan secara ilmiah, seharusnya GAAP dan Teknologi dapat mendukung pemahaman tersebut. Aktiva sebenarnya adalah Sumber Daya, Utang dan Ekuitas beserta Pendapatan adalah Sumber Pendanaan. Pemahaman akan menjadi Rancu ketika di dalam Sumber Pendanaan terdapat komponen Biaya. Atas dasar ini, sebenarnya jika ditinjau dari pilar GAAP dan Teknologi, komponen Aktiva dan Biaya sangat wajar dianggap sebagai sumber daya yang dimiliki oleh perusahaan. Pemahaman yang cukup mudah juga dapat kita temukan jika kita membalik pernyataannya. Sumber Pendanaan dari suatu perusahaan digunakan untuk membeli aktiva dan menbayar biaya-biaya yang dibutuhkan. Artinya Aktiva + Biaya = Utang + Ekuitas + Modal.

2. Ekuitas.
Ekuitas dapat diartikan sebagai net assets atau hak kepemilikan setelah dikurangi utang. Namun pengertian lengkap mengenai ekuitas dapat dilihat pada FASB. “Equity is the residual interest in the assets of an entity that remains after deducting its liabilities. In a business enterprise, the equity is the ownership interest” Dari pengertian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa sesungguhnya Ekuitas itu adalah nilai sisa. Persamaan akuntansi menunjukkan bahwa Aktiva = Utang + Ekuitas. Jika kita merujuk pada pengertian diatas, Ekuitas sebenarnya adalah nilai sisa atau nilai residu. Namun pada praktisnya sebagian perusahaan cenderung menonjolkan jumlah dari nilai sisa ini. Perlu adanya penelitian yang lebih mendalam untuk mendapatkan penyajian, pengukuran dan pengungkapan yang tepat atas komponen Ekuitas seperti yang sebelumnya pernah terjadi pada biaya overhead pabrik yang sebenarnya adalah nilai sisa dalam perhitungan Harga Pokok Penjualan, namun ketika ditemukannya Activity Based Costing. Pemahaman terhadap Biaya Overhead Pabrik menjadi lebih bermanfaat dan menghasilkan informasi yang jauh lebih layak bagi manajemen.

3. Revenue
“Revenues are inflows or other enhancements of assets of an entity or settlements of its liabilities (or a combination of both) during a period from delivering or producing goods, rendering services, or other activities that constitute the entity’s ongoing major or central operations.”(FASB). Dari pengertian diatas revenue atau pendapatan adalah kenaikan atas asset dan utang selama periode tertentu dalam menghasilkan produk ataupun jasa atau aktivitas utama lainnya dalam suatu entitas. Apakah revenue hanya merupakan kenaikan atas asset dan utang ? Mari kita lihat contoh kasus berikut.

  • Perusahaan A memiliki sediaan barang berupa beras senilai Rp. 1.000.000,00 Sementara itu perusahaan B memiliki sediaan barang berupa gula dengan nilai yang sama juga yaitu Rp. 1.000.000,00. Kedua perusahaan ini kemudian melakukan barter. Perusahaan A mendapatkan gula sebagai ganti beras yang diberikannya kepada perusahaan B, demikian juga sebaliknya. Berdasarkan kasus diatas apakah perusahaan A dapat menganggap perolehan atas gula sebagai pendapatan ? Jawabannya adalah Ya, karena perolehan atas gula mengakibatkan kenaikan dalam asset perusahaan A meskipun asset yang ada tidak bernilai uang atau cash yang masuk dalam penerimaan penjualan.
  • Misalkan Perusahaan TV Nasional ABC dan salah satu perusahaan media cetak nasional CDE memiliki kesepakatan untuk melakukan barter iklan. ABC bersedia mengiklankan Harian CDE pada spot iklan prime time senilai Rp. 500 juta dengan syarat Harian CDE juga mengiklankan ABC pada media cetaknya dengan nilai yang sama dan pada hari yang sama. Berdasarkan kasus tersebut, bagaimana kita harus memperlakukan transaksi barter diatas? Apakah barter tesebut dapat dilaporkan sebagai pendapatan ? Jika Ya bagaimanakah kita harus mencatatnya? Transaksi yang terjadi diatas memang cukup membingungkan. Jika transaksi tersebut dicatat maka akan menimbulkan kesalahan yang fatal karena akan dijurnal dengan menempatkan Biaya Iklan pada sisi Debet dan Pendapatan Iklan pada sisi Kredit. Penjurnalan seperti ini bertentangan dengan pengertian Revenue dalam FASB. Didalam FASB revenue hanya dinyatakan sebagai kenaikan Asset atau Utang. Revenue tidak dapat berasal dari kenaikan Biaya. Jika transaksi tersebut tidak dicatat, maka akan menimbulkan misinterpretasi dalam penyajian laporan keuangan karena ada kejadian yang materiil yang terjadi namun tidak dilaporkan. Permasalahan ini sebenarnya jika dipecahkan dengan mengunakan persamaan matematis akan menjadi logis jika kita menggunakan penjurnalan seperti yang dikemukakan diatas. Hal ini dapat dibuktikan dengan pesamaan akuntansi. Aktiva = Utang + Ekuitas + Pendapatan – Biaya, jika kita pindahkan Biaya pada sisi kiri maka akan menjadi Aktiva + Biaya = Utang + Ekuitas + Pendapatan. Pada persamaan ini terlihat bahwa meningkatnya pendapatan akan mengakibatkan Aktiva, Biaya, Utang dan Ekuitas mengalami peningkatan. Namun didalam kenyataannya pilar GAAP tidak mendukung pilar matematis tersebut.

Dengan memandang Akuntansi dari perspektif sistem dan matematika, ilmu akuntansi pada dasarnya memiliki akar yang kuat secara matematis. Dalam bukunya Financial Shenanigans-How to Detect Accounting Gimmicks & Fraud in Financial Report, Howard Schilit mengatakan pelajaran dasar yang harus dipahami dalam akuntansi hanya berkaitan dengan persamaan akuntansi diatas. Selebihnya yang berada dalam wilayah ilmu akuntansi adalah komentar-komentar dan pernyataan-pernyataan. Berbagai permasalahan yang ada di akuntansi kesemuanya hanya berada pada “othak-athik” item-item yang berada di dalam persamaan akuntansi. Di dalam buku tersebut terlihat bahwa berbagai kecurangan di dalam laporan keuangan yang merupakan produk dari akuntansi dapat dideteksi dengan mengembalikan akuntansi ke dasar pemahaman awalnya yaitu persamaan akuntansi tersebut. Dengan demikian akuntansi sebenarnya bukan merupakan ilmu sosial. Pengembangan teknik-teknik akuntansi ke dalam wilayah sosial hanya akan mengkerdilkan persamaan dasar akuntansi itu sendiri yang sesungguhnya berbasis pada matematika dan ditemukan pertama kali oleh seorang ahli matematika Italia yaitu Luca Pacioli.

Yogyakarta, 25 Maret 2009.
Howard Schilit. 2002. “Financial Shenanigans-How to Detect Accounting Gimmicks & Fraud in Financial Report”. The McGraw-Hill Companies, Inc
Darrell Mullis and Judith Orloff,(2006), “The Accounting Game”, Educational Discoveries, Inc.

About these ads
Categories: Artikel Tags:
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: